“Bukan Sekadar Ubi Hutan, Ondo Jadi Warisan Kuliner yang Ingin Diselamatkan Pemdes Uemakuni”

“Bukan Sekadar Ubi Hutan, Ondo Jadi Warisan Kuliner yang Ingin Diselamatkan Pemdes Uemakuni”

TOJO UNA-UNA, KALIBERNEWS.ID _ Pemerintah Desa Uemakuni, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una (Touna), bersama masyarakat menggelar gotong royong secara massal mengolah ubi hutan yang oleh masyarakat setempat lazim disebut Ondo, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat dalam mempertahankan makanan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Terlebih pada musim kemarau seperti saat ini, masyarakat Desa Uemakuni masih antusias memanfaatkan ubi hutan sebagai salah satu sumber pangan tradisional.

Kepala Desa Uemakuni, Sukiman Dang, mengatakan Ondo merupakan makanan tradisional yang memiliki nilai budaya bagi masyarakat setempat sehingga keberadaannya perlu terus dijaga dan dibudidayakan.

Menurutnya, perkembangan sektor pertanian di wilayah Touna yang semakin luas berpotensi membuat tanaman ubi hutan semakin jarang ditemukan di kemudian hari.

Karena itu, pemerintah desa menilai perlu adanya langkah pelestarian agar Ondo tidak hilang dari kehidupan masyarakat.

“Makanan tradisional orang negeri, Ondo ini harus dibudidayakan, lambat laun dengan perkembangan pertanian kita di Touna yang semakin meluas, pastinya makanan tradisional Ondo ini bisa punah.

Olehnya, menjadi perhatian kami selaku pemerintah desa agar makanan Ondo ini harus dibudidayakan,” ujar Sukiman Dang kepada Kalibernews.id.

Dalam kegiatan pengolahan tersebut, Kepala Desa Toba juga sempat mengunjungi masyarakat yang sedang melakukan pengolahan ubi hutan Ondo.

Pengolahan Ondo sendiri dilakukan masyarakat setiap musim kemarau, ubi hutan tersebut umumnya tumbuh liar di kawasan hutan.

Proses pengolahannya dilakukan secara tradisional, mulai dari menggali ubi, mengupas kulitnya, kemudian diiris tipis-tipis.

Setelah itu, irisan Ondo direndam menggunakan air yang mengalir. Proses tersebut dilakukan untuk mengeluarkan kandungan racun yang terdapat pada ubi hutan sebelum kemudian diolah dan dikonsumsi.

Bagi masyarakat setempat, Ondo bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga bagian dari kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Cita rasanya pun dinilai khas dan semakin nikmat ketika disantap bersama kuah ikan bening.

“Makanan tradisional Ondo ini sangat nikmat rasanya. Lebih-lebih kalau dimakan dengan kuah ikan bening, sungguh nikmatnya luar biasa,” ungkap Sukiman.

Melalui kegiatan gotong royong tersebut, Pemerintah Desa Uemakuni berharap tradisi mengolah Ondo tetap diwariskan kepada generasi muda sekaligus mendorong masyarakat untuk mulai membudidayakan tanaman tersebut agar tidak hanya bergantung pada pertumbuhan liarnya di kawasan hutan.

Upaya itu sekaligus menjadi bagian dari menjaga keberadaan pangan lokal dan kearifan masyarakat Desa Uemakuni di tengah perkembangan pertanian dan perubahan zaman.

(Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *