BEKASI, KALIBERNEWS.ID — Di tengah pesatnya pembangunan berbagai infrastruktur, gedung, perumahan, hingga fasilitas umum, keberadaan pekerja konstruksi menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Namun di balik berdirinya bangunan-bangunan tersebut, masih terdapat persoalan yang kerap luput dari perhatian, yakni mengenai kesejahteraan dan perlindungan para pekerja bangunan atau yang sehari-hari dikenal sebagai kuli bangunan.
Para pekerja konstruksi harus mengandalkan kekuatan fisik untuk menjalankan pekerjaannya. Mereka bekerja di bawah terik matahari, menghadapi hujan, mengangkat material berat, bekerja di ketinggian, serta berhadapan dengan berbagai risiko kecelakaan kerja.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan konstruksi menjadi salah satu pekerjaan yang membutuhkan ketahanan fisik sekaligus kewaspadaan tinggi.
Namun, beratnya pekerjaan dan tingginya risiko tersebut belum selalu berbanding lurus dengan penghasilan yang diterima.
Bagi sebagian pekerja bangunan, pendapatan sangat bergantung pada ada atau tidaknya proyek yang sedang berjalan.
Ketika Proyek Berhenti, Penghasilan Ikut Terhenti.
Berbeda dengan pekerja yang memiliki sistem penggajian tetap, sebagian pekerja bangunan masih memperoleh penghasilan berdasarkan hari kerja atau berdasarkan proyek. Ketika pekerjaan berhenti akibat hujan, keterlambatan material, atau proyek belum berlanjut, otomatis pendapatan mereka juga dapat terhenti.
Situasi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pekerja yang harus memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari.
Di sisi lain, pekerjaan konstruksi juga memiliki risiko keselamatan yang tidak kecil.
Pekerja dapat menghadapi risiko terjatuh dari ketinggian, tertimpa material, mengalami luka akibat peralatan kerja, maupun terpapar debu dan bahan material tertentu.
Karena itu, keselamatan kerja seharusnya menjadi perhatian utama, bukan sekadar pelengkap dalam sebuah proyek pembangunan.
Tenaga Besar, Risiko Besar, Tetapi Penghasilan Harus Tetap Manusiawi
Persoalan upah pekerja bangunan tidak semata-mata dapat dilihat dari besarnya nominal yang diterima. Ada tenaga, waktu, keterampilan, serta risiko keselamatan yang dipertaruhkan setiap hari.
Pekerja bangunan merupakan bagian penting dari rantai pembangunan. Mereka yang mengaduk semen, memasang bata, mengangkat material, memasang rangka, mengerjakan plafon, mengecat, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan teknis lainnya merupakan orang-orang yang secara langsung membantu mewujudkan sebuah bangunan.
Karena itu, sudah selayaknya keberadaan mereka mendapatkan penghargaan yang layak, baik melalui upah yang manusiawi maupun perlindungan keselamatan kerja.
Perlindungan dan Jaminan Sosial Juga Penting.
Selain persoalan penghasilan, perlindungan sosial bagi pekerja konstruksi juga perlu menjadi perhatian bersama.
Kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja. Ketika seorang pekerja mengalami kecelakaan atau sakit akibat pekerjaan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarganya.
Oleh sebab itu, pengusaha konstruksi, kontraktor, maupun pihak yang mempekerjakan tenaga bangunan perlu memperhatikan aspek keselamatan dan perlindungan pekerja sesuai ketentuan yang berlaku.
Penggunaan alat pelindung diri, lingkungan kerja yang aman, prosedur keselamatan, serta akses terhadap jaminan sosial merupakan bagian penting yang tidak seharusnya diabaikan.
Bukan Membandingkan, Tetapi Mendorong Keadilan
Perlu ditegaskan bahwa persoalan ini bukan untuk mempertentangkan pekerja pabrik dengan pekerja konstruksi. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh perlakuan dan kesejahteraan yang layak.
Namun, kondisi pekerja bangunan juga patut menjadi perhatian serius. Jangan sampai pekerjaan yang memiliki tuntutan fisik tinggi dan risiko keselamatan besar justru dipandang sebagai pekerjaan yang dapat dibayar seadanya.
Upah yang diberikan seharusnya mempertimbangkan jenis pekerjaan, keterampilan, beban kerja, waktu kerja, serta ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.
Seruan kepada Pengusaha, Kontraktor dan Pengembang
Kepada seluruh pengusaha konstruksi, pengembang, kontraktor, baik lokal maupun nasional, diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan para pekerja di lapangan.
Pembangunan bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah gedung berdiri atau seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari sebuah proyek. Di balik setiap pembangunan terdapat manusia yang mencurahkan tenaga dan waktunya.
Mereka yang membangun rumah, gedung, jalan, jembatan, dan berbagai fasilitas yang kita gunakan setiap hari juga berhak menikmati kehidupan yang layak.
Sudah saatnya kesejahteraan pekerja konstruksi menjadi bagian penting dalam setiap pembangunan. Jangan sampai keringat dan tenaga mereka hanya menjadi bagian dari keuntungan sebuah proyek, sementara kehidupan mereka dan keluarganya masih harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kerja keras harus dihargai. Risiko harus dilindungi. Dan setiap pekerja berhak mendapatkan penghasilan serta perlakuan yang manusiawi sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan.
Penulis: ” Kepala Biro Kabupaten Bekasi ” Aep Saepudin






