BOGOR, KALIBERNEWS.ID – Manajemen Sasana Kode Alam (Kodam) Boxing Camp, Cigombong, Kabupaten Bogor, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan simpang siur pemberitaan terkait kemenangan petinju Rafael Soares dalam kejuaraan tinju yang berlangsung di Penjaringan, Jakarta Utara.

Manajer Sasana Kode Alam Boxing Camp, Yulius Bhayangkara, S.H., M.M., menyampaikan klarifikasi mengenai perjalanan pembinaan Rafael Soares hingga berhasil meraih kemenangan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses latihan, kedisiplinan, kerja keras atlet, serta pendampingan intensif yang dilakukan oleh tim Sasana Kode Alam Boxing Camp.
Yulius menyayangkan adanya pemberitaan yang dinilai dapat menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat, khususnya terkait keterlibatan sasana lain dalam proses pembinaan Rafael hingga meraih prestasi.


Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui secara utuh perjalanan Rafael, termasuk sejak kapan atlet tersebut meninggalkan sasana sebelumnya dan mulai menjalani pembinaan bersama tim Kode Alam Boxing Camp.
Saat ini, Rafael Soares berada dalam pembinaan tim Sasana Kode Alam Boxing Camp dengan Denis Firman sebagai pelatih atau coach, serta Yulius Bhayangkara, S.H., M.M., yang menjalankan tugas sebagai manajer.
Rafael Sudah Tidak Berada di Sasana Lama Sejak 8–9 Bulan Lalu
Dalam keterangannya, Yulius menjelaskan bahwa Rafael memang pernah menjalani latihan di salah satu sasana bernama HWK.

Namun, berdasarkan penjelasannya, Rafael sudah tidak lagi berada di bawah naungan sasana tersebut sejak sekitar delapan hingga sembilan bulan sebelum akhirnya bergabung dengan Sasana Kode Alam Boxing Camp.
Rafael sudah hampir setahun keluar dari sana. Setelah itu, dia bertemu dengan Coach Denis di Kode Alam ini,” jelas Yulius.
Ia mengungkapkan, keputusan Rafael untuk bergabung dengan Sasana Kode Alam berawal dari keinginan pribadi sang atlet yang ingin mendapatkan kesempatan berlatih secara lebih serius dan terarah.
Bahkan, saat pertama kali datang, Rafael sempat menanyakan apakah dirinya harus membayar biaya latihan apabila bergabung dengan sasana tersebut.
”Rafael pernah bertanya, ‘Pak, boleh saya latihan di tempat Bapak? Bayar tidak?’ Kemudian Coach Denis menjawab, kalau memang punya niat serius untuk berlatih dan ingin berkembang, saya tidak meminta tarif,” ungkapnya.
Menurut Yulius, jawaban tersebut merupakan bentuk kepedulian pelatih terhadap anak muda yang memiliki kemauan dan potensi di bidang olahraga tinju.
Sejak saat itu, Rafael mulai mengikuti program latihan bersama Coach Denis Firman. Pembinaan dilakukan secara bertahap dengan menitikberatkan pada peningkatan teknik bertinju, kekuatan fisik, stamina, mental bertanding, hingga kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi lawan di atas ring.
Kemenangan Rafael Menjadi Bukti Hasil Proses Latihan.
Hasil pembinaan tersebut kemudian terlihat ketika Rafael mendapatkan kesempatan mengikuti kejuaraan tinju di Hummer Higth 3 Bali United Jakbar
Pertandingan tersebut menjadi pengalaman kompetisi pertama Rafael bersama Sasana Kode Alam Boxing Camp setelah menjalani pembinaan sekitar satu hingga dua bulan.
Meski waktu persiapan relatif singkat, Rafael mampu memperlihatkan kemampuan bertanding dan menunjukkan hasil dari latihan yang telah dijalaninya.
Yulius mengaku bangga terhadap pencapaian tersebut. Ia menilai Rafael memiliki potensi yang cukup besar untuk terus berkembang apabila mendapatkan kesempatan, pembinaan, dan pendampingan secara berkelanjutan.
”Ini merupakan kejuaraan pertama Rafael bersama kami. Apa yang sebelumnya pernah disampaikan bahwa dia tidak bisa menjadi juara, menurut kami justru berbanding terbalik dengan kenyataan. Anak ini memiliki potensi besar, baik dari teknik bertanding, mental, maupun jiwa tarungnya,” tegas Yulius.
Ia menambahkan, kemenangan tersebut bukan akhir dari perjalanan Rafael, melainkan menjadi langkah awal untuk membangun prestasi yang lebih tinggi di dunia olahraga tinju.
Disiplin, Mental, dan Pengendalian Emosi Jadi Perhatian Pelatih
Lebih lanjut, pihak manajemen menjelaskan bahwa kemenangan dalam olahraga tinju tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik maupun kerasnya pukulan seorang atlet.
Ada sejumlah aspek penting yang harus dimiliki petinju, di antaranya kedisiplinan, kemampuan membaca pergerakan lawan, menjaga konsentrasi, serta menjalankan instruksi pelatih selama pertandingan berlangsung.
Menurut tim pelatih, seorang petinju yang memiliki kemampuan teknik sekalipun harus mampu mengendalikan emosi agar tidak mudah terpancing oleh situasi pertandingan.
”Kenapa dia bisa menang kemarin? Karena dia disiplin mengikuti arahan pelatih dan mampu mengontrol emosi. Itu menjadi salah satu kunci kemenangannya,” tambah Yulius.
Ia berharap Rafael tidak cepat merasa puas dengan hasil yang telah diraih. Sebab, untuk mencapai prestasi lebih tinggi dibutuhkan latihan yang konsisten, mental yang kuat, serta kemauan untuk terus belajar dari setiap pertandingan.
Manajemen Jelaskan Penggunaan Hadiah Kemenangan
Dalam kesempatan tersebut, Yulius juga memberikan penjelasan mengenai hadiah yang diperoleh Rafael setelah memenangkan pertandingan.
Ia menegaskan bahwa pihak manajemen maupun pelatih tidak menjadikan kemenangan tersebut sebagai sarana untuk mencari keuntungan pribadi.
Menurut pengakuannya, hadiah kemenangan justru diserahkan untuk membantu istri Rafael, mengingat atlet tersebut baru saja dikaruniai anak pertama.
Yulius juga mengungkapkan bahwa selama proses persiapan hingga keikutsertaan Rafael dalam pertandingan, dirinya turut menggunakan dana pribadi untuk membantu memenuhi sejumlah kebutuhan operasional.
”Betul, kami mendapatkan hadiah, tetapi jumlahnya tidak besar. Hadiah itu semuanya kami sumbangkan untuk istri Rafael karena kebetulan Rafael baru saja mendapatkan momongan anak pertama. Saya sebagai manajer pun harus nombok untuk biaya pertandingan. Jadi kalau dikatakan kami mendapatkan keuntungan, sama sekali tidak,” tegasnya.
Ia menyebutkan bahwa dukungan yang diberikan kepada Rafael merupakan bagian dari komitmen untuk membantu atlet muda agar tetap memiliki kesempatan berkembang, meskipun dalam prosesnya membutuhkan dukungan biaya dan pengorbanan dari berbagai pihak.
Kode Alam Boxing Camp Fokus Cetak Atlet Berprestasi dari Bogor
Lebih jauh, Yulius menjelaskan bahwa Sasana Kode Alam Boxing Camp didirikan bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan materi.
Sasana tersebut diharapkan menjadi wadah pembinaan bagi generasi muda, khususnya di wilayah Cigombong dan Caringin, Kabupaten Bogor, yang memiliki minat serta bakat dalam olahraga tinju.
Melalui pembinaan yang terarah, pihaknya ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk mengembangkan kemampuan, membangun karakter, serta memiliki mental disiplin melalui olahraga.
Menurutnya, olahraga tinju bukan hanya mengajarkan teknik bertanding dan kekuatan fisik, tetapi juga membentuk tanggung jawab, keberanian, kesabaran, serta kemampuan mengendalikan diri.
Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan atlet secara berkesinambungan, mulai dari kelompok usia muda hingga atlet yang siap mengikuti kejuaraan tingkat daerah maupun nasional.
Dua Petinju Disiapkan untuk Hammer Fight Series 4 pada Desember
Tidak berhenti pada keberhasilan Rafael Soares, Sasana Kode Alam Boxing Camp kini kembali mempersiapkan sejumlah atlet untuk mengikuti kompetisi berikutnya.
Dalam keterangannya, Yulius mengungkapkan bahwa pada Desember mendatang pihaknya berencana menurunkan dua petarung atau fighter, yakni James Siahaya dan Roberto Candra, untuk berlaga dalam ajang Hammer Fight Series 4.
Kedua atlet tersebut dipersiapkan melalui program latihan dan pembinaan agar mampu tampil maksimal ketika menghadapi lawan di arena pertandingan.
Keikutsertaan James Siahaya dan Roberto Candra menjadi bagian dari langkah Sasana Kode Alam Boxing Camp dalam memperluas kesempatan bertanding bagi atlet-atlet binaannya.
Yulius berharap kedua petarung tersebut dapat memberikan penampilan terbaik sekaligus membawa nama baik Sasana Kode Alam Boxing Camp dan Kabupaten Bogor.
Selain itu, pihaknya juga tengah mempersiapkan dua atlet muda berusia di bawah 17 tahun yang direncanakan mengikuti kejuaraan Hammer Fight setelah Hari Raya Idul Fitri mendatang.
”Kami sekarang sedang mempersiapkan dua atlet usia di bawah 17 tahun yang insyaallah akan kami ikutkan dalam kejuaraan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tujuannya agar lahir juara-juara baru dari Cigombong dan Caringin yang bisa kami orbitkan hingga ke level Porprov maupun PON untuk mewakili Kabupaten Bogor,” pungkasnya.
Menurut Yulius, pembinaan atlet sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang bagi perkembangan olahraga tinju daerah. Dengan dukungan pelatih, manajemen, keluarga, dan masyarakat, diharapkan semakin banyak atlet potensial yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Bogor.
Terbuka Gelar Konferensi Pers Bersama Sasana Lama
Sebagai bentuk keterbukaan, pihak Sasana Kode Alam Boxing Camp menyatakan siap apabila diperlukan pertemuan bersama atau konferensi pers yang melibatkan seluruh pihak terkait, termasuk perwakilan sasana tempat Rafael pernah berlatih dan Rafael Soares sendiri.
Menurut Yulius, langkah tersebut diperlukan agar informasi yang berkembang di tengah masyarakat dapat diluruskan secara terbuka dan tidak menimbulkan kesalahpahaman berkepanjangan.
”Kami siap melakukan konferensi pers bersama dengan sasana lama dan Rafael. Silakan, kami terbuka. Tujuannya supaya semuanya jelas dan tidak ada lagi kesalahpahaman,” tutupnya.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, manajemen Sasana Kode Alam Boxing Camp berharap polemik mengenai perjalanan pembinaan Rafael Soares dapat disikapi secara proporsional.
Pihaknya menegaskan bahwa yang terpenting saat ini adalah bagaimana atlet dapat terus berkembang, memperoleh pembinaan yang baik, serta memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan melalui berbagai kejuaraan.
Ke depan, Sasana Kode Alam Boxing Camp berkomitmen untuk terus melahirkan petinju-petinju potensial dari wilayah Cigombong dan Caringin agar mampu bersaing di tingkat regional hingga nasional, sekaligus membawa nama baik Kabupaten Bogor di dunia olahraga tinju. ( Redaksi )






