Dibiarkan Pemerintah, Warga Pinapuan Kumpulkan Dana Beli 60 Batang Pipa Air Ganti yang Terbakar

Krisis Air Berkepanjangan, Masyarakat Kecewa Atas Lambatnya Respons Pemda dan Pemdes

π™‹π˜Όπ™‚π™„π™ˆπ˜Όπ™‰π˜Ό-π˜½π˜Όπ™‰π™‚π™‚π˜Όπ™„, π™†π˜Όπ™‡π™„π˜½π™€π™π™‰π™€π™’π™Ž.π™„π˜Ώ,_ Warga Desa Pinapuan terpaksa bergotong-royong mengumpulkan uang untuk membeli 60 batang pipa air baru setelah infrastruktur vital mereka rusak akibat pembakaran lahan.

Aksi swadaya ini dilakukan karena pemerintah setempat dinilai abai terhadap krisis air bersih yang sudah berlangsung lama.

Warga yang ditemui oleh Media ini mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap respons lambat dari tiga tingkat pemerintahan: Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, dan khususnya Pemerintah Desa Pinapuan.

Menurut mereka, pihak berwenang seolah membiarkan oknum pelaku pembakaran lahan yang menjadi penyebab utama terbakarnya pipa-pipa tersebut.

“Kami sudah melaporkan melalui saluran resmi di tingkat kecamatan, bahkan media juga sudah memberitakan, tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut”.

Tidak ada bantuan satu pun, keluh salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Krisis air di Desa Pinapuan bukan kali pertama terjadi, namun kerusakan 60 batang pipa air membuat situasi semakin kritis.

Tanpa infrastruktur tersebut, aliran air ke rumah-rumah warga terhenti total, memaksa mereka mencari alternatif lain untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keputusasaan, warga memilih jalan mandiri, mereka menggalang dana secara sukarela dari sesama penduduk desa untuk membeli pipa pengganti.

Meski jumlah yang terkumpul belum mencukupi untuk seluruh kebutuhan, langkah ini setidaknya bisa mengatasi masalah mendesak, khususnya untuk keperluan memasak.

“Sekarang kami hanya berharap Bupati dan Wakil Bupati turun tangan, kami butuh 60 batang pipa agar air bisa mengalir kembali seperti semula,” pinta warga lainnya dengan nada memohon.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Desa Pinapuan maupun Pemkab terkait rencana perbaikan infrastruktur air yang rusak.

Sementara itu, warga terus bertahan dengan keterbatasan, sambil menunggu janji-janji yang hingga kini belum juga terealisasi.

(π™π™šπ™™π™–π™ π™¨π™ž)Β 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *