KALIBERNEWS.ID-MOROWALI UTARA– Kondisi ekonomi para petani di Desa Opo, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, kini menghadapi tantangan berat akibat merosotnya harga hasil panen di pasar.
Salah satu warga sekaligus petani di wilayah tersebut yang akrab disapa Puana mengungkapkan kekecewaan dan kekhawatirannya, lantaran harga dua komoditas utama yang di tanam oleh para petani seperti nilam dan jagung, mengalami penurunan yang cukup drastis dan tidak sebanding dengan biaya serta tenaga yang telah dikeluarkan selama masa penanaman hingga panen.
Menurut Puana, selama ini dirinya dan warga petani lainnya telah bekerja keras merawat tanaman, mulai dari pengolahan tanah, pemeliharaan, hingga proses panen dengan harapan dapat memperoleh hasil yang layak untuk menutupi biaya produksi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Namun harapan tersebut kini pupus setelah harga jual kedua komoditas itu turun tajam.“Kami sudah bekerja keras dari awal hingga panen, tetapi apa yang kami dapatkan sangat jauh dari harapan.
Harga nilam dan jagung sekarang sangat rendah, hampir tidak ada keuntungan yang kami peroleh, bahkan ada yang hanya cukup untuk menutup biaya saja,” ungkap Puana.
Situasi ini tentu sangat memberatkan, mengingat sebagian besar warga di Desa Opo dan sekitarnya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
Ketidakpastian harga pasar membuat perencanaan keuangan para petani menjadi kacau, dan banyak dari mereka khawatir tidak mampu membiayai kebutuhan dasar maupun persiapan untuk musim tanam berikutnya.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan ini, Puana mewakili rekan-rekan petani lainnya menyampaikan harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Morowali Utara agar segera turun tangan dan memberikan perhatian serius terhadap nasib para petani di wilayah Bungku Utara.
Mereka berharap pemerintah dapat mencari solusi yang tepat dan nyata, baik melalui intervensi harga, pembukaan akses pasar yang lebih luas, bantuan sarana produksi, maupun program pendampingan agar hasil pertanian mereka memiliki nilai jual yang lebih baik dan stabil.
Kami berharap pemerintah tidak hanya mendengar keluhan kami, tetapi juga mengambil langkah yang bisa membantu kami kata Puana.
Jangan sampai kami bekerja keras namun hasilnya tidak sepadan, karena pertanian adalah tumpuan hidup kami di sini, tambah Puana dengan nada penuh harap.
Keluhan ini menjadi sinyal bahwa perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan usaha pertanian dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut, agar kami para petani tetap bersemangat mengolah lahan dan berkontribusi dalam penyediaan pangan daerah.
*Redaksi*











